Aku, entah bagaimana, rindu padamu.
Karena setelah bertemu denganmu, aku tidak pandai lagi menyimpan kenangan. Aku selalu membuangnya. Menurutku, kenangan itu menyakitkan. Dan sesuatu yang menyakitkan itu harus dibuang atau aku tidak bisa hidup.
Kamu membuatku berpikir bahwa semua kenangan itu menyakitkan.
Aku tidak pandai bertemu dengan orang. Di antara banyak yang main-main dan sedikit yang serius, aku jarang bertemu dengan seseorang yang bisa kuajak bercanda dengan bahagianya, tanpa bosan, dan lebih dari perasaan berteman.
Aku tidak bosan dengan kamu. Kalau saja kamu bisa mengurangi rayuan ringanmu, tentu saja.
Lalu kenapa setelah itu aku jadi dingin? Karena menjadi hangat tak berguna. Menjadi baik tak berguna. Menjadi pendengar tak berguna. Kamu sudah melompat-lompat dengan banyak kisah setelah aku.
Aku juga, tapi aku malas cerita.
Kalau saja aku diberi kesempatan lagi, mungkin dengan orang lain, aku ingin buktikan bahwa aku menganggap semua ini serius. Aku bukan pembosan dalam masalah ini. Aku ingin berikan yang terbaik yang aku bisa.
Karena kesempatan darimu kusiakan. Tapi kamu juga nggak pernah bilang. Kamu langsung mendebam pintu di depan wajahku.
Lain kali kalo ingin menyakiti orang tidak usah berpikir soal karma. Pikirkan bagaimana orang itu membersihkan hidupnya setelah kamu sakiti. Apalagi kamu masih datang lagi dan lagi seperti orang yang tidak tegas maunya apa.
Dengar, aku mau berteman denganmu, setelah kamu tegas apa yang kamu mau. Kamu tidak boleh membawa kisah-kisah itu di depanku--tidak, itu menyakitiku. Dan kamu terlihat sangat tidak tegas dengan membawa-bawa itu.
Tuhan, aku ingin kesempatan untuk bahagia. Untuk diriku dan orang di sebelahku nanti.
Amin.
Light
13 jam yang lalu




1 deals:
:)
Poskan Komentar